Rabu, 13 Juni 2012
Aku dan 'mereka'
Aku adalah seorang penulis.
Ya, setidaknya begitulah aku menyebut diriku. Aku sudah suka menulis sejak aku duduk di bangku sekolah dasar. Dimana salah satu karyaku pernah juga terbit disalah satu media cetak swasta. Namun bukan atas namaku. Banyak sekali cerita-cerita yang sudah aku buat. Tapi karena kemalasan selalu datang, cerita-cerita itu masih tersimpan tanpa terselesaikan. Sebenarnya kemalasan bukan satu-satunya alasan mengapa aku tidak menyelesaikan semua ceritaku. Melainkan, aku merasa aku masih harus banyak belajar untuk dapat membuat sebuah cerita yang berkualitas.
Aku sangat suka membaca. Terutama untuk membaca novel-novel sastra. Karena dari situ mungkin aku dapat belajar bagaimana membuat kata demi kata yang rumit namun dapat dimengerti. Membuat satu alur cerita yang menarik dan juga menyentuh. Tapi terkadang semua itu pun juga belum cukup. Entah apa yang harus aku lakukan untuk berani menyelesaikan semua ceritaku lalu mengirimnya pada salah satu penerbit. Aku ingin sekali tau bagaimana rasanya ketika aku memasuki beberapa toko buku, dan disana terlihat karyaku terpajang dalam deretan buku-buku laris. Entah apa yang akan aku lakukan ketika aku berada disuatu tempat dan disana terdapat seseorang sedang membaca karyaku. Satu hal yang pasti adalah aku akan tetap bersyukur dan tidak akan berhenti untuk menulis.
Sebenarnya menjadi penulis bukanlah cita-citaku. Sejak kecil entah mengapa aku selalu ingin menjadi seorang sutradara. Dimana semua teman-temanku sewaktu kecil memimpikan untuk menjadi dokter, guru, artis atau yang lain, aku selalu menulis kata 'SUTRADARA' dalam kolom cita-cita. Tapi mungkin jika suatu saat aku berhasil menjadi penulis, aku akan dengan mudah menyalurkan bakatku dalam dunia film. Dan menurutku, jika kita sudah dapat membuat sebuah alur, kita akan lebih mudah mengarahkannya. Tapi entahlah, itu hanya pendapat dari seorang pemimpi.
Kau tau, jiwa penulis itu tidak jauh dengan imajinasi yang berlebihan yang terkadang sulit untuk dikontrol. Sebuah cerita datang secara tiba-tiba dan disaat kita telah terbuai didalamnya, dia pergi begitu saja. Kau tau bagaimana rasanya? Seperti ketika kau sedang merasakan indahnya cahaya matahari, tapi tiba-tiba awan hitam datang menutupinya. Sebenarnya saat ini aku sedang merasakannya. Disaat aku mempunya suatu bahan untuk ditulis, tapi ketika aku mulai mengerjakan, itu semua hilang begitu saja. Seperti bermain-main dalam benakku, dan memaksaku untuk mencarinya. Dan bagaimana jika aku tidak berhasil menemukan mereka? Aku akan diam. Menutupnya dan melupakannya. Lalu aku akan membuka lembar baru ketika sebuah imajinasi baru datang untuk menemuiku. Itulah mengapa aku merasa harus masih banyak berlajar. Belajar menangkap semua imainasi yang selalu bermain-main didalam benakku dan mencoba untuk bersahabat dengan mereka. Dengan begitu aku akan dengan mudah menyelesaikan semua ceritaku.
Senin, 11 Juni 2012
Cinta?
Sampai saat ini aku masih mencari tau bagaimana cara kita dapat mengetahui apakah seseorang mencintai kita atau tidak tanpa ia mengatakannya. Dan entah sampai kapan aku terus mencari hal yang mungkin bahkan tidak akan aku temui jawabannya itu. Tidakkah kau ingin melakukan hal yang sama denganku? Tidakkah kau ingin tau apakah diluar sana ada seseorang yang diam-diam selalu memperhatikanmu? Mungkin kita dapat mengumpulkan sedikit demi sedikit perlakuan spesial yang dilakukan seseorang terhadap kita. Tapi bagaimana jika seseorang itu justru memilih untuk terus memendamnya, bahkan menjauh darimu. Apakah kau akan berfikir dia tidak mencintaimu? Ya pasti sebagian orang akan mempunyai pikiran itu.
Aku pernah membaca salah satu karya seorang penulis favoritku, Kahlil Gibran, bahwa ' Kekuatan untuk mencintai adalah anugrah terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia. ' Jadi kenapa harus ada orang-orang yang begitu takut untuk menghadapi cinta itu dan memilih untuk lari menjauhinya. Bukankah itu akan lebih menyakiti? Beberapa alasana yang kutemui dari orang-orang itu adalah takut ditolak, merasa tidak pantas, atau bahkan ada yang takut disakiti. Menurutku, disaat kita siap untuk mencintai, kita juga harus siap untuk merasa tersakiti. Karena cinta itu sendiri tidak selalu untuk bahagia bukan? Disaat kau dapat menerima kehadiran cinta tanpa peduli rasanya tersakiti, disaat itu kau telah mengerti bagaimana cinta. Bagaimana cinta membantumu bertemu orang-orang dengan karakter yang berbeda di dalam hatimu. Dan keterpurukan itu sendiri adalah jalan dimana kau akan menemukan cintamu yang sebenarnya. Apa yang dinamakan cinta sejati juga tidak selalu memberikanmu kebahagian. Orang yang terus menerus menyakitimu juga bukan berarti ia adalah cinta yang salah untukmu. Itu semua tergantung bagaimana kita menyikapi permainan cinta. Bagaimana kita memahami apa itu cinta yang sebenarnya.
The Reason
Cerita yang aku tulis kali ini adalah hasil karya salah seorang temanku, Raka. Ia memintaku untuk memposting tulisannya, karena dengan alasan tertentu ia tidak ingin memposting tulisannya ini.
Apa yang aku inginkan untuk menjadi seorang penulis adalah agar ceritaku dapat dibaca orang. Tapi semakin berjalannya waktu, aku ingin menjadi penghibur untuk para pembacaku. Ya, kesepian adalah alasan pertamaku untuk menulis. Beberapa orang mungkin sama sepertiku, kebanyakan orang menulis atau membuat lagu sebenarnya agar orang lain dapat mengerti apa yang ada didalam hatinya. Orang seperti kami terkadang seperti lilin yang dapat menerangkan orang lain tapi melelehkan dirinya sendiri.
Sebenarnya ada satu hal yang tidak dapat dipungkiri, yaitu Cinta. Terkadang cinta dapat menjadi penyemangat hidup kita, inspirasi kita, bahkan bisa membuat kita tersenyum tanpa sebab. Tapi cinta juga dapat membuat kita terjatuh. Terkadang mencintai orang lain dapat membuat kita sadar apa arti kehidupan dan cinta. Belajar mencintai dan dicintai, bagaimana rasanya bahagia dan membahagiakan pasangan kita. Bahkan setelah terpuruk dari cinta, beberapa orang menjadi sadar dan semakin mengerti bagaimana agar tidak terjebak dikesalahan yang sama. Mungkin tidak semua orang, karena sebagiannya lagi masih akan terus terjebak didalamnya dan enggan untuk keluar.
Cinta juga menjadi salah satu alasanku untuk menulis. Karena semua orang pasti mempunyai cerita yang berbeda-beda tentang perjalanan cinta mereka. Terkadang aku harus memposisikan diriku didalam keadaan yang terpuruk agar mendapatkan cerita yang menyentuh, terkadang pula aku menyembunyikan kesedihanku dan berpura-pura senang agar mendapatkan cerita yang lucu. Semua itu hanya untuk satu tujuan, yaitu menghibur.
Entah sampai kapan aku menjadi lilin seperti ini. Tapi bagiku, para pembacaku adalah cahaya bagiku. Karena merekalah yang mendengarkan ceritaku.
Terimakasih ):(
-Raka.
Kamis, 05 April 2012
Love in Friendzone
Aku duduk dihadapannya. Mengamati kata demi kata yang keluar dari mulutnya. Membentuk sebuah cerita tentang kisah cintanya. Sebelumnya Ia sudah bercerita padaku lewat social media. Namun kali ini aku dapat melihat jelas emosi yang keluar dari matanya.
"Gua salah banget ya emang suka sama dia..." Berkali-kali Ia mengucapkan kata-kata itu, sehingga membuatku bosan. Dan sudah berkali-kali pula aku mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan perasaan. Apa yang bisa kita salahkan dan siapa yang harus kita salahkan jika kita menyayangi sahabat kita sendiri. Semua terjadi begitu saja tanpa kita sadari. Kenyamanan yang kita rasakan saat bersama mungkin dapat berubah menjadi rasa cinta. Ya, temanku ini jatuh cinta pada sahabatnya yang juga adalah temanku sewaktu dikampus.
"Tapi dia ga suka sama gua" Kata-kata ini juga yang paling sering aku dengar dari nya. Disini, Aku maupun Dia tidak ada yang tau bagaimana perasaan wanita itu. Karena aku tidak begitu dekat dengan wanita ini, aku tidak dapat mengorek informasi apapun darinya. Aku hanya dapat mendengar curahan teman lelakiku ini. Kebingungan yang ia rasakan semakin mejadi-jadi ketika ia berfikir bahwa si wanita bersikap beda kepadanya.
"Lo liat ga tadi? Dia beda banget sama gua, gak kaya biasa. Ahhh harusnya gua ga jujur soal perasaan gua. Gua mau dia kaya dulu." Dia terus menyalahkan dirinya atas kebodohan yang ia perbuat. Hm, bukan kebodohan kalau menurutku, hanya ketidak tepatan waktu. Bukankah jujur adalah perbuatan yang baik.
"Gak ada yang bisa disalahin. Perasaan juga gak salah kok. Kalo emang dia beda sama lo sekarang, mungkin dia belom nyadar sama perasaannya. Bisa jadi dia juga ada rasa sama lo, tapi dia takut. Takut kalo aja perasaan lo berdua bisa ngerusak persahabatan kalian." Ucapanku tak berhasil membuatnya berfikir lebih tenang. Ia masih tertunduk dan terdiam. Sejuta kebingungan sangat terpancar dari matanya. Aku paham betul apa yang dirasakan temanku ini. Karena aku pernah mengalaminya. Namun aku tidak dapat memberikan banyak masukan untuk membuatnya tetap tenang atau bahkan melupakan perasaannya, karena sampai saat ini aku harus akui aku belum dapat menemukan jalan terbaik untuk masalah ini. Aku masih terjebak didalamnya. Satu hal yang dapat aku perbuat hanyalah berpura-pura bahwa aku telah keluar dari labirin percintaan dalam persahabatan. Dan inilah yang belum dapat temanku lakukan. Ia baru memulai, dan butuh waktu untuk dapat mengakhiri permainan ini.
"Gua salah banget ya emang suka sama dia..." Berkali-kali Ia mengucapkan kata-kata itu, sehingga membuatku bosan. Dan sudah berkali-kali pula aku mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan perasaan. Apa yang bisa kita salahkan dan siapa yang harus kita salahkan jika kita menyayangi sahabat kita sendiri. Semua terjadi begitu saja tanpa kita sadari. Kenyamanan yang kita rasakan saat bersama mungkin dapat berubah menjadi rasa cinta. Ya, temanku ini jatuh cinta pada sahabatnya yang juga adalah temanku sewaktu dikampus.
"Tapi dia ga suka sama gua" Kata-kata ini juga yang paling sering aku dengar dari nya. Disini, Aku maupun Dia tidak ada yang tau bagaimana perasaan wanita itu. Karena aku tidak begitu dekat dengan wanita ini, aku tidak dapat mengorek informasi apapun darinya. Aku hanya dapat mendengar curahan teman lelakiku ini. Kebingungan yang ia rasakan semakin mejadi-jadi ketika ia berfikir bahwa si wanita bersikap beda kepadanya.
"Lo liat ga tadi? Dia beda banget sama gua, gak kaya biasa. Ahhh harusnya gua ga jujur soal perasaan gua. Gua mau dia kaya dulu." Dia terus menyalahkan dirinya atas kebodohan yang ia perbuat. Hm, bukan kebodohan kalau menurutku, hanya ketidak tepatan waktu. Bukankah jujur adalah perbuatan yang baik.
"Gak ada yang bisa disalahin. Perasaan juga gak salah kok. Kalo emang dia beda sama lo sekarang, mungkin dia belom nyadar sama perasaannya. Bisa jadi dia juga ada rasa sama lo, tapi dia takut. Takut kalo aja perasaan lo berdua bisa ngerusak persahabatan kalian." Ucapanku tak berhasil membuatnya berfikir lebih tenang. Ia masih tertunduk dan terdiam. Sejuta kebingungan sangat terpancar dari matanya. Aku paham betul apa yang dirasakan temanku ini. Karena aku pernah mengalaminya. Namun aku tidak dapat memberikan banyak masukan untuk membuatnya tetap tenang atau bahkan melupakan perasaannya, karena sampai saat ini aku harus akui aku belum dapat menemukan jalan terbaik untuk masalah ini. Aku masih terjebak didalamnya. Satu hal yang dapat aku perbuat hanyalah berpura-pura bahwa aku telah keluar dari labirin percintaan dalam persahabatan. Dan inilah yang belum dapat temanku lakukan. Ia baru memulai, dan butuh waktu untuk dapat mengakhiri permainan ini.
Writting
Aku meneguk kopi yang aku buat lalu meletakkannya diatas meja, mengambil sebatang rokok lalu menghisapnya dalam-dalam. Kembali aku pandangi layar laptopku yang putih kosong. Entah mengapa hari ini aku tidak tau apa yang harus aku tulis. Ide demi ide bermunculan, namun tak satu katapun dapat aku ungkapkan. Ini tidak seperti biasanya, disaat secangkir kopi dan asap rokok sudah menemani aku akan dengan mudah membuat satu cerita. Namun kini itu tidak terjadi. Otak ku sedang bekerja keras merangkai kata demi kata yang berterbangan di angan-angan. Ketika aku berhasil merangkainya, sedetik kemudian disaat jari jemari ku menyetuh keyboard, kalimat itu hilang. Kata-kata yang susah payah aku rangkai kembali berterbangan, seolah mengejekku "KAU PAYAH KAU PAYAH..."
Aku menyenderkan tubuhku ke sofa, sempat merasa putus asa dan berfikir untuk mematikan laptopku lalu pergi tidur. Tapi itu tidak aku lakukan. Aku kembali menghisap rokok sambil memandangi layar laptopku.
'Ada apa ini? Kenapa membuat satu katapun aku tidak sanggup' Gumamku dalam hati.
Tak lama aku dengar suara gemiricik air hujan dari atapku. Aku menoleh kearah jendela, dan aku mendapati hujan sedang membasahi jendela-jendela rumahku. Aku tersenyum lebar sambil mematikan bara rokok ke asbak. Kembali aku meletakkan jari jemariku diatas keyboard. Berharap hujan kali ini memberikan sedikit pencerahan. Dan ya... akhirnya jari jemariku berhasil menekan satu demi satu huruf yang tertera di keyboard.
"HUJAN..... Tak banyak orang menyukaimu, begitu pula Aku. Kau selalu mengacaukan rencanaku, membuat pakaian ku basah dan kotor, membuat daya tahan tubuhku menurun disaat aku harus berlari menerjangmu, itulah sebabnya aku membencimu. Tapi aku tidak membenci suaramu, suara yang begitu merdu tanpa iringan suara gemuruh, memberikanku inspirasi untuk menulis disaat aku tidak dapat menemukan kata demi kata untuk ditulis. Suaramu membuat suasana hatiku nyaman, sehingga hati dan otakku dapat bekerja sama merangkai kata kata yang sedari tadi berterbangan entah kemana. Lagu demi lagu yang terlantun belum lengkap tanpa suaramu untuk memberikanku inspirasi. Bagaimanapun aku membencimu, aku tidak pernah membenci suara merdumu. Karena suaramu lah yang membuat jari jemariku bergerak diatas keyboard dan merangkai kata demi kata........................"
Aku masih tersenyum sambil terus menggerakkan jemariku. Kertas putih microsoft word yang sedari tadi aku pandangi, kini telah terisi oleh beberapa coretan-coretan hitam. Harus aku yakini, untuk menulis bukan hanya membutuhkan otak untuk berfikir, namun ketenangan hati sangat diperlukan untuk dapat membantu kinerja otak. :))
Aku menyenderkan tubuhku ke sofa, sempat merasa putus asa dan berfikir untuk mematikan laptopku lalu pergi tidur. Tapi itu tidak aku lakukan. Aku kembali menghisap rokok sambil memandangi layar laptopku.
'Ada apa ini? Kenapa membuat satu katapun aku tidak sanggup' Gumamku dalam hati.
Tak lama aku dengar suara gemiricik air hujan dari atapku. Aku menoleh kearah jendela, dan aku mendapati hujan sedang membasahi jendela-jendela rumahku. Aku tersenyum lebar sambil mematikan bara rokok ke asbak. Kembali aku meletakkan jari jemariku diatas keyboard. Berharap hujan kali ini memberikan sedikit pencerahan. Dan ya... akhirnya jari jemariku berhasil menekan satu demi satu huruf yang tertera di keyboard.
"HUJAN..... Tak banyak orang menyukaimu, begitu pula Aku. Kau selalu mengacaukan rencanaku, membuat pakaian ku basah dan kotor, membuat daya tahan tubuhku menurun disaat aku harus berlari menerjangmu, itulah sebabnya aku membencimu. Tapi aku tidak membenci suaramu, suara yang begitu merdu tanpa iringan suara gemuruh, memberikanku inspirasi untuk menulis disaat aku tidak dapat menemukan kata demi kata untuk ditulis. Suaramu membuat suasana hatiku nyaman, sehingga hati dan otakku dapat bekerja sama merangkai kata kata yang sedari tadi berterbangan entah kemana. Lagu demi lagu yang terlantun belum lengkap tanpa suaramu untuk memberikanku inspirasi. Bagaimanapun aku membencimu, aku tidak pernah membenci suara merdumu. Karena suaramu lah yang membuat jari jemariku bergerak diatas keyboard dan merangkai kata demi kata........................"
Aku masih tersenyum sambil terus menggerakkan jemariku. Kertas putih microsoft word yang sedari tadi aku pandangi, kini telah terisi oleh beberapa coretan-coretan hitam. Harus aku yakini, untuk menulis bukan hanya membutuhkan otak untuk berfikir, namun ketenangan hati sangat diperlukan untuk dapat membantu kinerja otak. :))
Senin, 19 Maret 2012
Sahabat jadi Cinta
'Temen sama Sahabat itu Beda'
Itu dialog singkat gua sama salah satu sahabat gua. Keinget sama dialog itu, gua jadi punya niat buat ngepost soal Sahabat sama Cinta. Kenapa sih kita gak boleh jadian sama sahabat kita sendiri? hem, sebenernya gak ada undang-undang yang ngelarang lo jadian sama sahabat lo sendiri kok. Malahan gak sedikit orang yang pacaran berawal dari persahabatan. Tapi ya, gak sedikit juga dari mereka yang persahabatannya ikut kandas waktu putus. Beberapa temen gua bilang; 'pacaran sama sahabat itu hukumnya haram, karena bisa ngerusak persahabatan' dan sejauh mata gua memandang, banyak sih emang yang abis jadian sama sahabat terus putus jadinya gak sedeket dulu sebelum jadian. Jangankan yang udah jadian terus putus, yang baru ngaku kalo suka aja bisa tiba-tiba jauh karena menghindar (bukan menghindar karena gak suka loh, tapi menghindar supaya jangan sampe pelangi berubah jadi awan hitam).
'apa bedanya?'
'kalo temen bisa jadi pacar. kalo sahabat..... sebisa mungkin jangan jadi pacar'
Itu dialog singkat gua sama salah satu sahabat gua. Keinget sama dialog itu, gua jadi punya niat buat ngepost soal Sahabat sama Cinta. Kenapa sih kita gak boleh jadian sama sahabat kita sendiri? hem, sebenernya gak ada undang-undang yang ngelarang lo jadian sama sahabat lo sendiri kok. Malahan gak sedikit orang yang pacaran berawal dari persahabatan. Tapi ya, gak sedikit juga dari mereka yang persahabatannya ikut kandas waktu putus. Beberapa temen gua bilang; 'pacaran sama sahabat itu hukumnya haram, karena bisa ngerusak persahabatan' dan sejauh mata gua memandang, banyak sih emang yang abis jadian sama sahabat terus putus jadinya gak sedeket dulu sebelum jadian. Jangankan yang udah jadian terus putus, yang baru ngaku kalo suka aja bisa tiba-tiba jauh karena menghindar (bukan menghindar karena gak suka loh, tapi menghindar supaya jangan sampe pelangi berubah jadi awan hitam).
Punya sahabat deket yang lawan jenis emang serba salah. Apa-apa pasti kita cerita ke dia, kemana-mana juga bareng, malah kadang lebih nyaman dari pacar. Perasaan kan timbul bermula dari kenyamaan. Jadi ya, gak bisa disalahin juga kalo kita suka bahkan bisa sampe sayang sama sahabat kita itu. Kalo sayangnya cuma sebatas sahabat sih ya gapapa, tapi kalo udah sampe galau karena sahabat sendiri itu..... not worth it banget coy, ya gak sih?
Tapi sebenernya semua tergantung individu masing-masing sih. Ada juga kok yang jadian sama sahabat, tapi hubungannya baik-baik aja setelah putus. Kalo di survey mungkin hasilnya kalah banyak sama yang persahabatannya ancur karena cinta. Karena kebanyakan yang gua tau nih ya, 2 orang sahabat yang jadi pacar itu setelah putus palingan cuma salah satunya aja yang woles malah berusaha buat bikin semua balik kaya dulu, tapi yang satu ini nih yang mungkin galau banget/bisa jadi udah kecewa banget sm partnernya ini jadi males dan menghilang bagai debu yang tertiup angin. And finally, there's no more friendship between them. Sedih sih sebenernya, kehilangan pacar aja sedih apalagi sekaligus kehilangan sahabat!
Buat lo nih yang lagi suka sama sahabat lo, gua saranin sih sebisa mungkin ilangin deh perasaan itu. Sakit sih emang mendem perasaan sendiri. Daripada lo harus menjadi salah satu korban keganasan cinta dalam persahabatan, pilih mana? Terserah sih, semua kan tergantung individu masing-masing, sama-sama sakit kok :D
Sabtu, 17 Maret 2012
GOD is the Best Director
Hidup itu misteri. Kita tidak akan pernah tau apa yang akan kita alami di
hari esok. Siapa yang akan temui pula dihari esok. Begitu lah saat aku bertemu
denganmu. Pertemuan yang singkat tanpa rencana. Siapa yang tau bahwa disaat
itu aku akan bertemu dengan lelaki yang sampai saat ini sangat aku cintai. Siapa
pula yang mengira bahwa pertemuan singkat itu telah membuat kita melalui tahun
demi tahun bersama. Ibarat panggung
drama, kita hanyalah pemeran yang memainkan sandiwara tanpa membaca naskah yang
telah disiapkan oleh Tuhan. Dan Tuhan hanya
mengawasi layaknya sutradara yang duduk manis dibelakang monitor. Sementara kita
terus memainkan diri masing-masing sesuai naskah tanpa dapat menolak setiap
adegan yang tidak kita inginkan.
Sebuah cerita pasti memiliki awal dan akhir. Setiap pertemuan pun mungkin
juga harus memiliki perpisahan. Jika aku dapat mencuri naskah buatan Tuhan,
mungkin aku sudah menghapus satu alur cerita dimana aku harus kehilangan dirimu.
Siapa sih yang ingin merasa kehilangan orang yang sangat dicintai? Aku rasa tidak ada. Tapi apa daya
kita sebagai pemeran? Hanya dapat diam menerima dan memainkan semua yang
direncanakan Tuhan. Tidak akan ada yang dapat mengubah alur cerita yang sudah
dibuat Tuhan, begitu pula aku. Ya,
sekali lagi kita hanya dapat terdiam pasrah menerima semuanya.
Tuhan menghadirkanmu. Sosok lelaki yang selalu menemani hari-hariku. Meberikan tawa, amarah dan juga air mata. Lelaki yang sangat misterius. Tahun demi tahun aku lalui bersamamu selalu memberikan teka-teki yang harus aku pecahkan sendiri. Kau selalu menyimpan semua yang kau rasakan sendiri. Berbagi sedikit cerita kepadaku dan teman-temanmu, namun masih banyak yang kau sembunyikan dalam dirimu. Tuhan tidak membuat sebuah drama pendek, tapi Ia membuat ceritaku bagai sebuah drama yang mungkin berdurasi amat sangat lama. Sampai Ia membawamu pergi menjauh dariku. Inilah cerita yang seharusnya sudah aku hapus dari naskah Tuhan. Merasa kehilanganmu seperti merasa kehilangan jiwaku sendiri. Menerima kepergianmu bagaikan menggali sebuah lubang yang dalam hanya dengan menggunakan sebuah sendok makan. Disini apa yang dapat aku lakukan, diam terpaku memandangi tubuhmu yang kaku. Berharap Tuhan mengubah alur cerita dan kau tetap dapat selalu menemaniku. Apa yang akan kalian lakukan jika seseorang yang selalu menemani kalian selama bertahun-tahun pergi dan tak akan pernah kembali? Menangis? Ya pasti! Sedih? Itu juga sudah pasti. Putus asa? Mungkin sebagian orang akan merasa seperti ini. Marah kepada Tuhan? ... jika aku dapat marah kepada Tuhan, aku akan marah padaNya. Apa maksudNya?! Menghadirnya sosokmu untuk menemaniku lalu membawamu begitu saja tanpa memberikan sedikit dialog apapun. Tapi sekarang apa dayaku? Aku hanya dapat diam menerima semua ini terjadi. Kembali berpikir sehat, bahwa apa yang Tuhan rencanakan adalah yang terbaik untukku. Mungkin ceritaku denganmu akan disambung lagi dalam cerita yang berbeda. Saat ini aku hanya harus bersyukur karena Tuhan telah memberikanmu padaku. Lelaki yang sangat aku cintai dan juga sangat mencintaiku. Aku telah diberi kesempatan untuk merasakan kasih sayang darimu. Dan akhir cerita yang dapat aku ambil: “Tuhan tidak membiarkan apapun atau siapapun memisahkan aku dengamu, walau berbagai masalah dihadirkan kepada kita, Tuhan tetap membiarkan kita bersama. Karena Tuhan telah menuliskan bahwa yang dapat memisahkan kita berdua hanyalah kematian. I Love You, Ki!!!”
terimakasih TUHAN :'))
Langganan:
Postingan (Atom)



